Tiada Hari Tanpa Dia

Sudah tiga hari ini masyarakat Jogja dibuat resah, oleh sesuatu yang merupakan akibat dari rutinitas kehidupan,,,
sesuatu yang selalu dan pasti terjadi setiap hari, selama kehidupan masih berlangsung,,,

Sampah,,
ya semua orang mengenal sampah, manusia dan sampah adalah suatu ikatan yang tidak dapat terpisahkan, tapi sering kali kita abaikan keberadaannya, padahal tanpa kita sadari, sampah bisa merupakan masalah yang sangat serius,,, dan saat ini kenyataan itu benar2 terwujud, sejak beberapa hari yang lalu beredar berita melalui media sosial bahwa TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang berlokasi di Piyungan Bantul, ditutup tanpa kepastian untuk berapa lama..

Jelang hari ketiga seluruh penjuru kota Jogja dihiasi oleh tumpukan sampah, ada yang dirapihkan dalam kantung2 plastik hitam ukuran jumbo dan diikat, ada yang diletakkan dalam keranjang terbuka, tapi juga tidak sedikit yang sampahnya dibiarkan berserakan begitu saja, seolah bukan merupakan bagian/akibat dari aktivitas kehidupannya,,

Seandainya TPA Piyungan benar2 ditutup secara permanen, maka mau tak mau kita harus mengolah sampah rumah tangga secara mandiri, atau secara berkelompok, mengelola bank sampah.
Langkah pertama yg paling sederhana adalah memilah-milah sampah kita menjadi beberapa bagian sesuai dengan jenisnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik, kemudian yg anorganik, akan lebih baik jika dipisahkan lagi menjadi:
– sampah botol kaca
– sampah plastik yg dapat didaur-ulang
– botol plastik bekas kemasan
– tutup kemasan dan label
– kantong plastik, masing2 lembar diikat dan dibuat simpul
– styrofoam
– barang elektronik bekas termasuk kaleng
– baterai dan baterai isi ulang
– sisa minyak goreng, masukkan dalam botol plastik
Masing2 diletakkan dalam keranjang yang warnanya berbeda-beda antara sampah yang bisa di didaur-ulang dan yang tidak.

Semua itu akan efektif jika sdh tersedia bank sampah yang akan secara rutin melakukan pengambilan sampah.
Bank sampah yang telah dikelola dengan baik akan mengumpulkan sampah dari rumah para anggotanya berdasarkan jenis sampah, misal:
– sampah organik dari aktivitas dapur (sayuran dan sisa makanan) diambil tiap hari untuk dijadikan kompos
– sampah wadah plastik, styrofoam, sekali seminggu
– sampah yg dapat didaur ulang, sekali sebulan
– baterai, kaleng, sekali sebulan

Sebenarnya isu menutup TPA Piyungan itu sdh agak lama terdengar, yaitu sekitar akhir tahun 90an, tapi ditunda krn hrs menyiapkan TPA yg baru, tapi tidak pernah ada kabar tentang pengadaan lahan untuk TPA yg baru tsb, juga gerakan utk mengelola sampah mandiri seperti kurang kuat gaungnya..

Pada tahun 2013, profesor Sigit Supadmo dan kawan2 alumni FTP UGM, telah mendeklarasikan sebuah gerakan yang bernama GIB (Gerakan Irigasi Bersih), selama enam tahun ini kami mengupayakan Bantul bersih dari sampah terutama sampah yg menyumbat saluran irigasi yg mengairi sawah.
Alhamdulillah saat ini kesadaran petani terhadap pengelolaan sampah sudah baik, sudah ada beberapa bank sampah yang mampu meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat secara finansial dengan menjual sampahnya, di samping itu juga telah diadakan kursus keterampilan yg bisa menyulap sampah menjadi barang yg bermanfaat..

Kini lah saatnya giliran orang kota, khususnya Jogja, juga harus mulai mengelola sampahnya, terutama jika belum memiliki bank sampah di lingkungannya, sebab jika tidak sekarang kapan lagi, apakah harus menunggu sampai kota ini ditenggelamkan oleh sampah??!!!

Jangan sekali pun pernah berpikir untuk mengeksekusi sampahnya dengan cara membuang ke kali,,,
karena membuang sampah ke kali itu merupakan kejahatan lingkungan dan bisa menjadi dosa lingkungan.

Lupakan nyanyian yg pernah diajarkan pada waktu kita masih anak2, terutama mereka yang berdomisili di Jawa, yaitu lagu Dayohé Tekå, dimana ada kata2 dalam lagu tersebut yang menyarankan utk membuang sampah ke kali, sebuah ajaran yang keliru!!!

Ayo kita bersama,
tingkatkan nilai sampah, dari sekedar sampah, menjadi berlipat berkah,
lingkungan bersih indah,
hiduppun lebih bergairah.

Sotja 73

 

gambar dari https://news.okezone.com

Bagikan
  • 32
    Shares

One thought on “Tiada Hari Tanpa Dia

  • March 28, 2019 at 1:15 pm
    Permalink

    Mantap, article menarik, nuwun Bu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp