Soal Gudeg Yogya yg otentik Miroso

Dari segi budaya, gudeg adalah karya adiluhung di bidang kuliner yang sangat kreatif dari bangsa Indonesia. Gori atau nangka muda yang berwarna pucat, berserat kasar dan sangat bergetah itu bisa diolah dengan sangat luar biasa menjadi makanan yang secara estetik menarik bagi mata, indra penciuman dan pencecap.

Dari segi teknik memasak, gudeg merupakan cermin dari keuletan orang Indonesia. Sejak teknik pemilihan pohon nangka varietas tertentu, teknik pengupasan dan penghilangan getah, teknik memasak slow cooking yang luar biasa sehingga dihasilkan gudeg yang bertekstur lembut, warna coklat merah yang indah, dengan harum gurih yang meresap canggih.

Dari segi sejarah, dijelaskan oleh Profesor Murdijati Garjito (peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional, Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada), gudeg sebenarnya sudah ada sejak awal Yogyakarta dibangun pada abad ke-16.
Saat itu para prajurit Kerajaan Mataram membabat hutan belantara untuk membangun peradaban di kawasan Kotagede. Di hutan tersebut banyak terdapat pohon nangka. Yang kemudian diolah dengan menambahkan kelapa. Proses pemasakan dilakukan di ember logam besar, dan diaduk menggunakan pengaduk besar. Proses mengaduk itu disebut  _hangudek_ , yang mendasari asal usul nama _Gudeg_.

Dari segi gizi , hasil penelitian Professor Murdijati Garjito menyatakan bahwa gudeg memiliki kandungan serat yang tinggi, baik yang bersifat larut maupun tidak larut. Kandungan serat yang tinggi tersebut berkhasiat mengikat racun dan memperbesar volume faeces, sehingga memudahkan ekskresi.
Hal ini menjelaskan, mengapa orang Yogyakarta jarang terkena kanker usus besar.
Gudeg juga kaya kalsium untuk pertumbuhan tulang, serta fosfor untuk menambah energi.

Gudeg dan Yogya memang tidak terpisahkan. Ramahnya Yogya tercermin dalam gurih gudeg dan ribuan kenangan indah di dalamnya.
Jika anda menyusuri Mbarek atau Wijilan, kenangan dan rasa bahagia diwakili oleh aroma gudeg yang mengundang nostalgia.

Percayalah…
Dari data BPS, Angka harapan hidup rata-rata orang Indonesia adalah 67 tahun.Namun usia orang Yogyakarta bisa mencapai mencapai 77,7 tahun. Mungkinkah umur panjang berkorelasi positif dengan konsumsi gudeg yang hampir tiap hari?
Nampaknya ini perlu penelitian tersendiri.

Mangga.

Penulis : Endang Wahyuningsih, FTP 83

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp