Autisme, Mikrobiota Usus, Probiotik dan Transfer Mikrobiota Feses

Autisme secara sederhana diartikan sebagai gangguan perkembangan pada otak yang berpengaruh pada cara berkomunikasi dan berinteraksi sosial seseorang. Diketahui bahwa penderita autis dari tahun ke tahun semakin meningkat, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka tersebut. Di lain pihak, penelitian mengenai mikrobiota usus juga semakin berkembang.  Ternyata mikrobiota usus tidak hanya dikaitkan dengan kesehatan usus saja namun juga kesehatan tubuh secara umum.  Telah diketahui bahwa mikrobiota yang seimbang pada usus (normobiosis) memiliki banyak manfaat kesehatan pada tubuh, seperti memberikan proteksi terhadap penyakit atau infeksi, mendukung sistem imun tubuh, serta manfaat lainnya.  Berkebalikan dengan kondisi normobiosis, apabila terjadi kondisi disbiosis di sistem pencernaan, hal tersebut dikhawatirkan dapat berdampak buruk bagi tubuh. Tidak hanya potensi penyakit gastrointestinal saja, namun juga dapat mengakibatkan penyakit-penyakit lainnya yang terkait dengan otak, liver, ataupun paru-paru.

Kini dikenal istilah Gut – Brain Axis untuk menunjukkan adanya keterkaitan antara otak dan usus, termasuk mikrobiotanya.  Dari penelitian terkini diketahui bahwa mikrobiota usus anak-anak penderita autis berbeda dengan anak-anak yang sehat.  Diketahui pula bahwa para penderita autis lebih banyak mengalami masalah gangguan usus, seperti konstipasi, diare, kembung, dan penyakit lambung lainnya.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa diversitas dan populasi beberapa bakteri usus berbeda secara signifikan pada kelompok anak-anak autis dan sehat.  Ternyata Bifidobacterium yang dikenal sebagai bakteri baik, juga Prevotella, populasinya diketahui lebih rendah pada para penderita autis.   Perbedaan diversitas dan populasi mikrobiota usus ini yang kemudian memunculkan upaya penggunakan probiotik untuk mengatasi masalah disbiosis pada penderita autis. Probiotik diartikan sebagai bakteri hidup yang dikunsumai dalam jumlah cukup dan dapat memberikan manfaat kesehatan. Berbagai penelitian telah menyimpulkan hasil positif penggunakan probiotik dalam hal memperbaiki kondisi keseimbangan mikrobiota usus.  Pada publikasi terbaru Kang dkk (2019) disampaikan terapi “Transfer Mikrobiota Feses” yang berisi mikrobiota usus (tentu saja dari subjek yang sehat) pada para penderita autis juga dinilai berhasil.  Modulasi mikrobiota usus baik melalui konsumsi probiotik ma   upun transfer mikrobiota feses dinilai dapat mengatasi masalah disbiosis usus.

 

Jagalah ususmu, jagalah mikrobiota ususmu agar senantiasa sehat!

(ESR – serial Gut Microbiota)

 

Pustaka

Piotr Walecki, Aleksandra Kawala-Janik and Justyna Siwek. Autism in Children Connected with Gastrointestinal Symptoms. http://dx.doi.org/10.5772/intechopen.79863

 

Dae-Wook Kang et al, Long-term benefit of Microbiota Transfer Therapy on autism symptoms and gut microbiota, Scientific Reports (2019). DOI: 10.1038/s41598-019-42183-0

 

 

temukan berbagai makanan sehat di https://www.tokopedia.com/tepeugm diproduksi oleh alumni Fakultas Teknologi Pertanian UGM

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp