Lima Tips dari Dokter untuk Memutus KLB Difteri

Luar biasa sudah usaha pemerintah untuk memutus mata rantai penularan difteri dan menghentikan KLB (kejadian luar biasa). Pelaksanaan ORI (outbreak-response immunization) membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka, bagian kita adalah berpartisipasi dalam program tersebut. Selain itu, ada beberapa hal yang juga bisa kita lakukan. Berikut lima tips penting dari Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi, anggota Satgas Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), melalui pesan singkatnya.

  1. Buka mulut anak, cucu atau keponakan. “Minta ia menjulurkan lidahnya, lalu suruh bicara aaa, aaa, aaa beberapa kali. Lihat apakah ada lapisan putih tebal di tenggorokan dan lubang hidung,” tulisnya.
  2. Bila ada lapisan putih tebal, “Segera bawa ke dokter, Puskesmas atau Rumah Sakit, untuk diperiksa lebih lanjut apakah betul difteri atau bukan.” Bila dicurigai difteri maka harus segera dirawat untuk diobati dan diperiksa ulang.Keluarga atau teman yang sering berinteraksi dengan pasien juga harus segera diperiksa tenggorokannya. Bila ditemukan kuman difteri, maka diobati dengan antibiotik dan mendapat vaksinasi difteri. Ini untuk mencegah penyebaran, karena difteri mudah sekali menular saat pasien bicara, batuk atau bersin.Ditegaskan oleh Dr. dr. Soedjatmiko, pasien difteri tidak usah dikunjungi oleh orang lain. “Cukup oleh orangtua dan keluarga terdekat, karena yang menjenguk bisa tertular dan menyebarkan ke mana-mana,” tuturnya.
  3. Segera lihat catatan imunisasi DTP anak di kartu imunisasi KMS atau buku KIA. Umumnya, orangtua mengatakan bahwa anaknya mendapat vaksinasi lengkap. Padahal bila dilihat catatan imunisasinya, tidak lengkap. Atau catatan hilang tidak berhasil ditemukan. “Lengkap ataupun tidak lengkap, semua anak di daerah KLB difteri usia satu hingga <19 tahun harus mendapat tiga kali imunisasi difteri,” tegasnya. Inilah ORI, yang dilaksanakan dengan interval 0-1-6 bulan.
  4. Orang dewasa yang sering berbicara, bermain atau berhadapan dengan pasien difteri harus diperiksa tenggorokannya, diberi antibiotik dan vaksin difteri. Sedangkan yang tidak pernah berhubungan dengan pasien difteri, tidak wajib melakukan vaksinasi.
  5. Jangan ikut-ikutan orang yang menakut-nakuti bahwa imunisasi berbahaya. “Penyakit difteri sangat berbahaya. Terbukti menyerang ratusan anak dan lebih dari 40 anak cucu kesayangan kita telah meninggal,” sesal Dr. dr. Soedjatmiko. (nid)

 

Artikel ini pernah dimuat di : http://otcdigest.id/kesehatan-anak/lima-tips-dari-dokter-anak-untuk-memutus-klb-difteri pada tanggal 15 Januari 2018

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp