Ketum yang seperti apa sih?

Sengaja kupilih photo berjamaah dan sedikit blur…hahaha

Salah satu kriteria yang cukup banyak dijadikan argumen kawan-kawan dalam memilih siapa ketua alumni selanjutnya berdasarkan survey yang kurilis kemarin pagi adalah, ketum mendatang harus seorang yang senior.

Siapa yang dianggap senior? Aku tak mau menyebutkan hahaha! Tapi seriously, haruskah ketum alumni berikutnya itu seorang yang senior? Apa sih definisi nya?

Senior = tua

Senior adalah tua! Itu definisi pertama.

Haruskah seorang ketum itu tua? Setua apa? Angkatan berapa? Aku merasa belum tua tapi semua angkatan memanggil ku Mbah? Ah ini kan karena branding mi lethek ku yang berjuluk Mbah Mendes, jadi bukan lantaran aku termangsuk sudah tua meski lulus dari ftp UGM sudah 32 tahun silam!

Tak bisakah kita dipimpin seorang ketum yang tidak harus tua tapi tetap senior? Apakah gengsi kita runtuh bila dipimpin yang lebih muda? Kalau iya, pilihlah yang paling tua jika itu membuatmu bahagia.

Senior =  kaya pengalaman

Senior adalah kaya pengalaman! Itu definisi kedua.

Haruskah seorang ketum itu kaya pengalaman? Pengalaman apa? Sekaya apa?  Pengalaman memimpin?

Jadi ketum alumni tak butuh kaya pengalaman organisasi karena setiap komunitas/organisasi sosial punya karakter serta ciri sendiri. Pemimpin dengan pengalaman banyak dalam berorganisasi malah ditakutkan akan membuat karakter komunitas kita berubah dan hilang lalu yang muncul justru one man show, terlalu dominan karakter sie pemimpin dan menurutku ini salah besar!

Dekat dengan Fakultas = di Yogya

Sedekat apa? Bukankah zaman now jarak bukan menjadi kendala? Anda tinggal nuthul android sudah bisa berhubungan dengan kawan nun jauh disana? Ini jaman teknologi internet  broo… Dunia diujung jari anda!

Dekat di hati? Ah itu mudah aplikasinya, bukankah semua alumni tak ada masalah dengan Dekan Fakultas? Saya jamin semua alumni bermindset open mind sehingga mudah diajak koordinasi dan kerjasama demi harumnya sebuah alumni, right?

Muda = miskin pengalaman?

Pengalaman memimpin organisasi yang bagaimana? Toh komunitas itu style leadership nya partisipatif?

Justru jika komunitas dipimpin oleh darah baru, darah muda yang trengginas maka geraknya dinamis menyesuaikan jaman, setuju?

Rasanya gak ada salahnya memberikan
tempat pada yang muda, yang mungkin selama ini kita anggap anak bawang. Jangan remehkan bawang karena ketika mengupasnya, ia bisa membuatmu menitikkan air mata tanpa ada kepedihan di dada, betul?

Ayuk mana yang muda yang berani tampil beda?

Sengaja kukirim photo yang sedikit blur, entah photo ini bisa bicara apa tidak, yang baku kita tunggu sampai hari Sabtu, itu adalah hasil munaslub nya.

Dari penggembira yang selalu HEPI.
Salam sukses salam Mendes

Bagikan
  • 4
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp