Sate Lilit Bali

Sate lilit Bali adalah sate yang dibuat dari daging ikan dan udang yang dililitkan pada sereh. Aroma ikan-udang yang berpadu dengan sereh yang dibakar merupakan ciri khas sate litit ini. Sajian sate lilit khas Bali memang disukai banyak orang karena rasanya yang gurih dan baunya yang wangi karena dililitkan pada batang sereh

Bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat sate lilit Bali


Cara membuat:
• Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, cabai rawit hijau, daun salam, daun jeruk, sereh, dan asam jawa sampai harum. Angkat. Dinginkan.
• Aduk rata menggunakan blender/food processor: daging ikan kakap, udang, kelapa parut, garam, merica hitam kasar, gula merah, dan bumbu tumis.
• Ambil sedikit adonan di tangan. Rekatkan pada batang sereh. Bentuk seperti pentul.
• Bakar menggunakan griller atau oven sampai matang.
• Sajikan bersama nasi putih/nasi merah

Keamanan pangan untuk sate lilit Bali

Sate lilit Bali merupakan makanan khas daerah Bali, yang dibuat dengan bahan dasar ikan dan udang yang setelah dibuat adonan dililitkan pada batang sereh atau bilah bamboo. Selanjutnya, lilitan adonan ikan dan udang ini diolesi dengan bumbu dan dipanggang/dibakar. Sate lilit yang dikonsumsi dalam kondisi panas, memiliki risiko bahaya mikrobiologis yang rendah. Namun demikian, ada juga sate lilit yang dikonsumsi dalam kondisi dingin, setelah beberapa waktu dipajang. Oleh karena itu pengendalian bahaya yang diperkirakan akan mucul tetap harus dilakukan, agar sate lilit Bali tetap aman dikonsumsi.

Identifikasi bahaya yang mungkin muncul
Potensi bahaya yang mungkin muncul pada sate litit adalah bahaya mikrobiologis yang berasal dari bakteri (patogen) yang terbawa oleh ikan dan udang segar. Ikan dan udang yang tidak diperlakukan dengan baik dapat membawa cemaran bakteri, termasuk patogen. Patogen yang umum pada ikan dan udang adalah Vibrio, Salmonella.

Pada saat bahan ini dipotong-potong, dihaluskan dan dicampur dengan bumbu (menggunakan blender), serta dibuat adonan dan direkatkan pada bilah bamboo, maka bakteri yang berasal dari kulit tangan karyawan (Staphylococcus aureus), alat, lingkungan akan menambah jumlah cemaran bakteri yang terdapat pada adonan sate. Apabila sate ini tidak langsung dipanaskan/dioven/dibakar, dan didiamkan saja dalam suhu ruang, maka segera bakteri akan berkembang biak dengan cepat, termasuk patogen yang dapat membahayakan konsumen.

Potensi bahaya berikutnya berasal dari kontaminasi silang pasca pengolahan, contohnya, sate yang telah masak harus dipisahkan dengan sate lilit yang masih mentah, peralatan yang digunakan juga tidak boleh tercampur. Apabila digunakan peralatan yang sama, dan terjadi perpindahan bakteri dari bahan mentah atau peralatan yang kotor ke sate yang telah masak, dan kemudian sate dibungkus karena tidak segera dimakan, maka bakteri yang mencemari sate matang akan segera berkembang biak, termasuk patogen. Apabila menyantap sate setelah beberapa jam dan jumlah cemaran cukup banyak, maka dikawatirkan dapat membahayakan. Sate sebaiknya disantap segera, dalam kondisi masih panas.

Cara pencegahan agar bahaya tidak muncul

Pembelian bahan dasar
Untuk menghindari terjadinya keracunan atau timbulnya penyakit, ikan dan udang harus dipilih yang masih segar, ditandai dengan bau dan warna normal. Bahan dasar yang lain ini juga harus dipilih yang berkualitas baik.

Penanganan dan persiapan
Ikan dan udang harus segera dibersihkan dan mendapatkan perlakuan dingin. Ikan dan udang sangat rentan terhadap kerusakan, baik oleh enzim bawaan yang dapat merusak struktur daging demikian pula akibat pertumbuhan bakteri yang ada. Sehingga sampai dengan saat sebelum diolah, ikan dan udang harus diperlakukan dingin, agar aktivitas enzimatis dan pertumbuhan mikroorganisme dapat dihambat.

Tahapan perekatan adonan pada batang sereh atau bilah bambu merupakan tahapan dimana kontaminasi bakteri pada adonan sate akan terjadi, dan apabila bakal sate ini tidak segera dibakar maka bakteri ini juga akan segera tumbuh dan berkembang biak. Untuk menghindari kontak langsung antara adonan dan tangan karyawan saat merekatkan adonan maka sebaiknya digunakan sarung plastik.

Pembakaran/pemanggangan
Pembakaran adalah tahapan yang mampu menurunkan jumlah bakteri daging, bakteri dari bumbu dan merusak enzim bawaan ikan atau udang. Panas yang diberikan pada tahapan ini harus cukup dan merata. Panas yang cukup ditandai dengan daging yang masak sampai ke dalam. Panas harus cukup untuk membunuh seluruh bakteri yang ada. Bila ada bagian sate (bagian dalam) panasnya tidak cukup dan tidak seluruh bakteri mati, maka bakteri segera akan berkembang biak saat sate dingin. Oleh karena itu sebaiknya sate lilit dikonsumsi saat masih panas.

Penyajian
Sebaiknya sate langsung disantap segera setelah dibakar. Apabila akan disantap dirumah, maka sebaiknya sate lilit dikemas menggunakan kemasan yang memenuhi syarat. Sate yang dibungkus sebaiknya disantap kurang dari 4 jam, atau untuk lebih amannya sate dalam bungkusan langsung disimpan dalam kondisi dingin (dimasukkan lemari es), dan saat akan disantap dipanaskan terlebih dahulu

Resep oleh: Siti Rahayu 73 dan Lidia Ratna H
Endang S Rahayu 73
Sumber gambar: https://blog.kulina.id/manjakan-lidah-dengan-sate-lilit-khas-bali-26e5b891be46

Bagikan
  • 23
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp