Apakah Probiotik dengan Happy Hormone-nya Dapat Mengatasi Stres?

Stres, kata yang sering kita dengar, bahkan kita sendiri juga sering mengalaminya. Stres tidak hanya melanda orang dewasa, bahkan anak-anak kecilpun sekarang ikut merasakan juga. Orang tua stres karena tekanan di kantor, anaknya ikut stres karena selalu dimarahi, kena imbas dari stres orang tuanya. Atau sebaliknya, karena pelajaran di sekolah juga PR yang banyak, kadang membuat anak-anak stres, dan orang tuanya ikutan stres, ikutan sibuk membantu PR anak-anaknya. Stres diartikan sebagai gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Dunia yang berkembang dengan cepat, tuntutan kehidupan modern, menyebabkan penduduknya, baik tua, muda, bahkan anak-anak dilanda stres. Beberapa cara umum untuk mengatasi stres adalah dengan sharing problem, silaturahmi, olah raga ringan, bersantai, melakukan kegiatan yang menggembirakan, main musik dansa, juga konsumsi makanan yang bergizi. Pertanyaannya adalah: Apakah probiotik dapat digunakan untuk mengatasi stres? Kalau YA, bagaimana mekanismenya?

Probiotik dikenal sebagai bakteri yang dikonsumsi dalam kondisi hidup dengan jumlah cukup, mampu tumbuh di kolon, serta membawa manfaat kesehatan. Manfaat kesehatan yang diberikan oleh bakteri probiotik utamanya adalah menjaga keseimbangan mikrobiota usus (gut microbiota). Keseimbangan mikrobiota terjadi pada saat mikrobiota yang terdapat pada usus dapat bersinergi dengan tubuh sehingga tubuh berada dalam kondisi sehat. Gut microbiota dapat menguntungkan tubuh melalui beberapa mekanisme, protektif yang berasal dari kolonisasinya pada usus, metabolit yang dihasilkan, yaitu asam, hidrogen peroksida, kadang-kadang bakteriosin yang memberikan lingkungan yang tidak kondusif untuk pertumbuhan bakteri patogen. Gut microbiota juga mampu menstimulasi sistem imun tubuh. Ternyata dari penelitian terkini, diketahui juga bahwa bakteri baik yang tergabung dalam gut microbiota mampu menghasilkan berbagai jenis metabolit yang menguntungkan tubuh. Saat ini telah dapat dibuktikan bahwa gut microbiota tidak hanya terkait dengan usus dan sekitarnya, tetapi juga organ-organ yang lain diantaranya otak dan liver. Terdapat hubungan timbal balik antara mikrobiota usus dan otak, sering disebut juga gut microbiota – brain axis.

Pada orang sehat, mikrobiota pada kondisi yang seimbang, dengan komposisi dan populasi mikrobiota yang normal. Namun demikian, pada saat terjadi stres, maka keseimbangan mikrobiota terganggu dan terjadi disbiosis. Bakteri yang kurang menguntungkan cenderung populasinya meningkat, sedang bakteri baik khususnya Bifidobacterium dan Lactobacillus jumlahnya cenderung menurun. Demikian pula sebaliknya saat terjadi perubahan komposisi mikrobiota usus karena sesuatu hal yang mengakibatkan disbiosis dapat berpengaruh pada fungsi otak. Adapun penyebab disbiosis bermacam-macam, yaitu dari diet, infeksi, penggunaan obat, antibiotik, dan lain-lain. Dikarenakan otak juga membutuhkan produk-produk metabolit yang penting yang dihasilkan oleh mikrobiota usus sehingga terjadinya disbiosis berdampak pada kesehatan saraf dan mental. Sehingga semakin jelas bahwa ada komunikasi antara gut microbiota dan otak.

Bifidobacterium dan Lactobacillus yang dikenal sebagai bakteri baik mampu menghasilkan metabolit-metabolit yang menguntungkan contohnya SCFA (short chain fatty acids) dan beberapa neurotransmitter seperti serotonin, GABA (gamma-aminobutyric acid), neropinephrine, depomine. Metabolit ini dapat masuk melalui mukosa intestin. Khusus untuk serotonin ternyata memiliki efek langsung ke otak, yang dapat mengurangi stres. Walaupun mekanisme masih dipertanyakan namun beberapa penelitian menggunakan tikus telah dapat dibuktikan. Bahwa tikus stres yang mengkonsumsi probiotik penghasil sirotonin kondisinya menjadi lebih tenang dan beraktivitas normal.

Serotonin atau disebut juga 5-hidroksitriptamin (5-HT) adalah neurotransmitter monoamino yang terdapat pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-sel enterokromafin dalam saluran pencernaan, yang dipercaya sebagai pemberi rasa nyaman dan senang. Kini banyak diteliti probiotik yang mampu menghasilkan serotonin atau happy hormone ini. Wallace dan Milev baru baru ini (2017) telah me-review potensi probiotik dalam mengatasi stres dan hasilnya adalah pada umumnya probiotik positif mampu mengatasi stres namun demikian tetap tergantung dari strain probiotik yang digunakan, dosis serta lama konsumsi.

Apakah probiotik lokal yang dimiliki oleh Para Peneliti FTP UGM juga mampu mengatasi stres? Mari kita buktikan. Namun yang lebih penting adalah, jangan sampai kita stres. Mari kita jaga agar happy hormone selalu kita produksi setiap hari, jaga keseimbangan gut microbiota kita agar ikut membantu produksi happy hormone. Salam sehat dan bahagia selalu

Seri Probiotik – Endang Sutriswati Rahayu 73

Referensi :
Wallace and Milev. 2017. The effects of probiotics on depressive symptoms in humans: a systematic review. Ann Gen Psychiatry (2017) 16:14 DOI 10.1186/s12991-017-0138-2
Sumber gambar : https://hellosehat.com/hidup-sehat/nutrisi/nutrisi-alami-mengatasi-stres/

Bagikan

One thought on “Apakah Probiotik dengan Happy Hormone-nya Dapat Mengatasi Stres?

  • May 14, 2018 at 8:00 am
    Permalink

    Info penting. Terima kasih Prof

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp