Kapan Bakteri dalam Usus Mulai Diketahui? Dari Escherichia coli, Bifidobacterium, Lactobacillus hingga Gut Microbiota

Theodor Escherich (1857-1911), professor pediatri di Universitas Vienna, Austria pada tahun 1885, tertarik dengan pertanyaan ‘apakah bakteri merupakan penyebab diare pada bayi yang pada saat itu merupakan kasus yang sering terjadi?’. Penelitian yang dia lakukan adalah dengan menggoreskan feses bayi pada gelas preparat dilanjutkan dengan pengamatan menggunakan mikroskop. Dia memperhatikan bahwa terdapat perbedaan komposisi populasi bakteri pada feses bayi yang minum air susu ibu (ASI) dan susu botol. Dia memberi nama Bacterium coli communior sebagai bakteri yang dominan pada feses, bakteri ini diperkirakan mencerminkan keberadaan bakteri pada kolon, yang selanjutnya diberi nama Escherichia coli. Penelitian ini, merupakan penelitian awal tentang bakteri usus. Dilain pihak, pada tahun 1899 Tissier yang bekerja di Laboratoriumnya Pasteur menemukan bahwa bakteri yang predominan pada usus bayi ASI adalah bakteri anaerob yang diberi nama Bacillus bifidus, yaitu bakteri yang berbentuk bifid (Y). Penelitian ini merupakan awal dari penemuan Bifidobacterium yaitu bakteri yang dikenal baik pada usus manusia. Metchnikoff (1908) juga melakukan pengamatan terhadap orang Bulgaria yang tetap sehat di hari tua, diduga berasal dari konsumsi yogurt yang mengandung bakteri hidup, Lactobacillus. Teori ini menjadi landasan konsep probiotik yang saat ini diartikan sebagai konsumsi sel hidup yang memiliki efek kesehatan bagi tubuh. Walaupun dengan peralatan yang sangat terbatas saat itu, namun ke tiga peneliti ini merupakan pionir di bidang penelitian mikrobiota usus.

Kini menggunakan teknik molekuler, seperti teknik PCR (Polimerase Chain Reaction) dengan berbagai jenis primer, tidak hanya bakteri-bakteri yang dapat dikulturkan saja yang terdeteksi, namun juga termasuk unculturable microorganism, yang justru lebih dominan di dalam usus. Sehingga jenis maupun jumlah mikroorganisme yang terdapat di saluran pencernaan dapat diperkirakan. Apalagi didukung dengan peralatan canggih seperti Next Generation Sequencing (NGS), berbagai informasi terkait dapat diperoleh seperti microbiota, microbiome, metagenomic, metatranscriptomic, metabolomics, gene profile. Metode kultur maupun metode non kultur dapat digunakan untuk menjawab “siapakah penghuni mikrobiota usus?” (Who are they?). Dengan NGS dapat dilakukan gen-profiling serta analisis berbagai gen-gen fungsional yang terdapat pada komunitas mikrobiota usus. Gen profiling serta gen-gen fungsional dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh mikrobiota usus?” (What are they doing?). Bahkan dari ekstrak sampel feses juga dapat dilakukan analisis terhadap metabolit-metabolit yang ada, sehingga dari suatu komunitas mikrobiota dapat dipelajari tentang microbiome, transkripstome, proteome, metabolome, adapun arti dari masing-masing istilah adalah sbb:

• Mikrobiota adalah komunitas mikroorganisme pada suatu ekosistem;
• Mikrobiom adalah kumpulan gen-gen yang dimiliki oleh komunitas mikroroganisme dalam suatu ekosistem, namun sering juga diartikan sebagai seluruh kumpulan mikroorganisme beserta gen dan geome yang ada di suatu ekosistem.
• Metagenomik adalah suatu ilmu yang mempelajari seluruh DNA dari suatu ekosistem
• Transkriptomik adalah suatu ilmu yang mempelajari seluruh RNA dari suatu ekosistem
• Proteomik adalah suatu ilmu yang mempelajari seluruh protein (enzim) dari suatu ekosistem
• Metabolomik adalah seluruh ilmu yang mempelajari seluruh metabolit yang ada dalam suatu ekosistem

Penelitian mikrobiota usus yang dilakukan adalah dari hasil analisis mikrobiota yang ada pada feses volunteer, karena saat ini hanya itulah yang bisa dilakukan. Walaupun mungkin ada perbedaan yang signifikan antara mikrobiota yang betul-betul ada di usus dengan yang di feses, namun, mendapatkan sampel yang mencerminkan usus melalui endoskopi adalah sulit untuk dilakukan. Sehingga sampai dengan saat ini, walaupun disebutkan sebagai gut microbiota namun secara umum dipahami bahwa kenyataannya yang dimaksud adalah fecal microbiota. Diharapkan bahwa mikrobiota feses ini dapat mencerminkan keberadaan mikrobiota usus. Saat ini mikrobiota usus tidak hanya dikaitkan dengan penyakit saluran pencernaan saja, namun juga penyakit-penyakit yang nampaknya tidak ada hubungannya, tapi dari hasil penelitian terkini ternyata ada kaitannya satu dengan yang lain, yaitu diabetes tipe II, kegemukan, obesitas, depresi, anorexia nervosa, autism, penyakit Parkinson, alergi dan asma.

Penelitian tentang gut microbiota saat ini juga sedang dilakukan oleh Tim Peneliti Probiotik – Gut Microbiota FTP UGM, diharapkan data yang diperoleh dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara pola makan, gut microbiota serta kondisi kesehatan.

Endang Sutriswati Rahayu 73
Sumber gambar : http://www.gutmicrobiotaforhealth.com/en/about-gut-microbiota-info/

Bagikan

One thought on “Kapan Bakteri dalam Usus Mulai Diketahui? Dari Escherichia coli, Bifidobacterium, Lactobacillus hingga Gut Microbiota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp