Pangan Aman bagi Bayi

Selama ini GPA (Gerakan Pangan Aman) selalu menuliskan materi tentang keamanan pangan yang mayoritas diperuntukkan bagi konsumsi orang dewasa dan anak-anak, tetetapi luput dari penulisan materi tentang pangan yang aman bagi bayi ataupun batita dan balita.

Pemikiran ini muncul saat kemarin seseorang mengirimkan pertanyaan tentang keamanan mengonsumsi susu formula bagi anak-anak, barulah tersadar bahwa bayipun merupakan pengasup pangan yang juga harus dijaga keamanan dan kesehatannya, mengingat bahwa bayi adalah aset bangsa yang akan menjadi generasi penerus yang perlu memiliki kesehatan yang prima, baik fisik maupun jiwanya.

Perlu diketahui bahwa susu formula tidak selamanya baik untuk dikonsumsi oleh bayi, karena susu formula tidak bisa berkualitas sama dengan ASI (Air Susu Ibu), namun ada sebagian kalangan yang merasa kurang bergengsi jika tidak menggunakan susu formula bagi bayinya.

Susu formula dalam kemasan tidak terjamin kesterilannya dari kontaminasi bakteri yang bernama Enterobacter sakazaki yang dapat menyebabkan infeksi di seluruh tubuh, radang selaput otak, dan infeksi usus.

Susu bubuk bukanlah produk komersiil yang steril, kontaminasi dapat berasal dari bahan baku susu, bahan tambahan, peralatan untuk pengolahan susu, tempat pengolahan, kemasan, serta cara penanganannya (faktor manusia).

Namun demikian, bagi bayi berumur lebih dari 6 bulan, susu formula tetap dapat aman dikonsumsi asalkan dimasak dengan benar, yaitu pada suhu ± 70˚C selama 3 menit. Susu formula biasanya tidak melalui proses sterilisasi, walaupun selama pengolahannya ada proses pemanasan, tetetapi pemanasan tersebut hanya bertujuan untuk mengubah bentuk susu dari cair menjadi bubuk dengan kadar air berada di bawah 5 %.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan susu formula adalah :

  1. Menjaga kebersihan saat menyiapkan susu dan segera meminumkannya kepada bayi.
  2. Membuat susu dengan porsi sekali habis.
  3. Menyiapkan susu dengan cara yang benar: didihkan air, dinginkan sampai  ± 70˚C, campurkan susu formula sesuai takaran. Bakteri akan mati pada suhu 60˚C, tetapi juga mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehilangan nilai gizi susu formula.
  4. Tidak memberikan susu yang telah disimpan terlalu lama. Waktu penyimpanan tidak boleh lebih dari 4 jam.
  5. Selama 6 bulan bayi tidak perlu asupan makanan tambahan, selain ASI, terlebih jika
    menggantinya dengan susu formula. Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir sampai umur 21 bulan akan berbahaya bagi perkembangan kesehatannya.
  6. Botol susu harus selalu steril dengan merebusnya dalam air mendidih.
  7. Beli susu formula dalam kemasan kecil, sehingga cepat habis dan diganti dengan yang baru, hal ini untuk menghindari tercemar bakteri.
  8. Tingkatkan kewaspadaan terhadap sanitasi selama proses penyimpanan, penyiapan, dan pemberian susu formula pada bayi, termasuk peralatan dan air yang digunakan.
  9. Baca dan ikuti petunjuk yang tertera pada kemasan susu formula untuk mencegah
    kontaminasi bakteri.
  10. Setelah bayi berumur lebih dari 6 bulan, beri makanan pendamping ASI secara bertahap, mulai dari bubur susu, tim saring, sampai makanan keluarga pada usia 1 tahun.

Bayi sampai dengan umur 6 bulan tidak boleh diberi susu formula, karena tidak ada makanan yang lebih sulit dicerna daripada susu sapi yang merupakan bahan baku pada pembuatan susu formula. Susu sapi adalah zat cair yang encer, kasein yang membentuk ± 80 % protein yang terdapat dalam susu sapi akan langsung menggumpal menjadi satu begitu masuk lambung sehingga menjadi sangat sulit dicerna.

Susu formula bagi anak di atas umur 6 bulan tetap harus dikendalikan, mengingat banyaknya kasus alergi yang terjadi pada anak-anak, oleh karena itu para dokter menyatakan bahwa pemberian susu formula disamakan dengan obat-obatan, yaitu hanya bisa dibeli dengan resep atau rekomendasi dokter, hal ini untuk menghindari akibat ketidakcocokan susu formula terhadap kondisi tubuh anak.

Nutrisi alami selalu lebih baik, daripada nutrisi yang diformulasikan, giatkan anak-anak dengan nutrisi alami, minyak ikan, madu, sayur, dan buah-buahan.

Sotja Prajati 73

Alodokter.com

Hellosehat.com

Bidanku.com

Detikfood

Sumber gambar : https://www.orami.co.id/magazine/kapan-dot-bayi-harus-diganti-dengan-yang-baru/

 

Bagikan
  • 7
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp