Dapatkah Probiotik Digunakan untuk Mengatasi Masalah Obesitas?

Telah diketahui bahwa usus dihuni oleh mikroorganisme yang jumlahnya mencapai triliunan, puluhan bahkan ratusan kali lebih banyak dari sel kita sendiri.  Kini dengan peralatan yang canggih, mikroorganisme yang ada diusus sudah mulai terungkap, jenisnya maupun aktivitasnya.  Kita tidak asing lagi dengan istilah gut microbiota, yaitu komunitas mikroorganisme yang ada di usus kita, yang ternyata berpengaruh pada tubuh dan kesehatan kita.  Kita sering berpendapat bahwa kegemukan itu merupakan faktor yang diturunkan dari orang tua, paling tidak kalau orang tuanya mengalami obesitas, anaknya ada saja yang obesitas, walaupun kita juga percaya bahwa hal ini bisa juga dipengaruhi oleh pola makan.  Bagaimana dengan kasus obesitas yang saat ini semakin melanda dunia? Data yang ada (WHO, 2016) menunjukkan bahwa kasus kegemukan di Indonesia mencapai 24.4%, sedang obesitas 5.7%, angka ini juga mirip dengan kasus secara global. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah gut microbiota orang obesitas dengan orang normal itu berbeda?  Kalau iya, apakah probiotik yang mampu menjaga keseimbangan gut microbiota dapat digunakan untuk mengatasi masalah obesitas?

Bahwa gut mirobiota berpengaruh pada berat tubuh khususnya obesitas, ataupun sebaliknya, telah dibuktikan oleh Tumbaugh et al., 2008. Setelah memindahkan mikrobiota tikus yang gemuk pada tikus kurus, maka tikus yang tadinya kurus, lambat laun berubah menjadi gemuk, maka dipercaya bahwa memang ada keterkaitan antara mikrobiota dengan berat tubuh. Dari review Delzenne dan Cani (2011) diperoleh fakta bahwa gut microbiota ternyata juga berpengaruh pada  metabolisme  pada jaringan di luar intestine yaitu pada liver dan jaringan adipose. Mikrobiota ini juga berperanan di dalam memodulasi homeostatis lipida dan glukosa, juga inflamasi sistemik pada tubuh. Berbagai studi  menjelaskan bahwa terdapat perbedaan gut microbiota serta aktivitasnya  pada individu yang kurus dan gemuk.  Hubungan antara gut microbiota dengan obesitas juga diperkuat oleh Ridaura et al., tahun 2013.  Para peneliti ini, memasukkan feses dari wanita dewasa kembar yang obesitas dan normal ke dalam tikus percobaan dengan usus steril, selanjutnya tikus ini diberi pakan rendah lemak.  Ternyata hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tikus yang diberi feses dari wanita kembar obesitas juga mengalami obesitas. Nampak bahwa gut microbiota ada hubungannya dengan obesitas. Walaupun data pada manusia masih kontroversial, namun memanipulasi mikrobiota pada usus diperkirakan mampu untuk mengatasi problem obesitas.

Bifidobacteria – Obesitas. Bifidobacteria dikenal merupakan bakteri baik yang terdapat di usus. Sejak bayi, bakteri ini mendominasi usus, terutama pada bayi yang minum ASI, karena pada ASI terdapat nutrisi yang cocok untuk Bifidobacteria. Hasil review oleh Delzenne dan Cani (2011) menunjukkan bahwa obesitas sangat berpengaruh pada mikrobiota usus, khususnya Bifidobacteria.   Disebutkan bahwa  populasi Bifidobacteria yang rendah pada kelahiran terkait dengan obesitas anak-anak di kemudian hari. Lebih lanjut di dalam reviewnya, juga disebutkan bahwa ibu yang kelebihan berat badan melahirkan bayi dengan jumlah Bifidobacteria yang rendah, sehingga diperkirakan bahwa obesogenik mikrobiota merupakan faktor keturunan. Disebutkan pula bahwa jumlah Bifidobacteria pada individu yang obesitas adalah lebih rendah dibandingkan individu yang normal atau kurus. Bakteri lain yang populasinya konsisten dilaporkan naik pada individu yang obesitas adalah Enterobacteriaceae, Escherichia coli serta Staphylococcus aureus. Bifidobacteria yang dikenal sebagai bakteri baik, di dalam proses metabolismenya akan menghasilkan short chain fatty acid (SCFA, seperti halnya asetat, propionate, butirat dan L-laktat). Hasil metabolit inilah yang selanjutnya memegang peranan penting di dalam metabolisme inang (tubuh). SCFA diperkirakan mampu mengatur (menekan aktivasi) ekspresi gen gen khususnya terkait dengan adipositas dan inflamasi, sehingga beberapa manfaat dapat dirasakan oleh tubuh.

Dari uraian di atas jelas bahwa pada individu yang obesitas, populasi Bifidobacteria cenderung menurun dan dilain pihak beberapa bakteri yang kurang menguntungkan yaitu kelompok Enterobacteriaceae dan Staphylococcus meningkat. Sehingga pertanyaannya apakah dengan meningkatkan populasi Bifidobacteria dalam usus dapat mengatasi masalah obesitas? Bagaimana dengan peran probiotik? Bakteri probiotik yang dikonsumsi dalam keadaan hidup dan melakukan kolonisasi di usus diharapkan dapat meningkatkan keseimbangan mikrobiota, menaikkan populasi bakteri baik di usus, khususnya Bifidobacteria dan Lactobacilli dan menekan bakteri yang kurang menguntungkan. Sehingga terjawablah mekanisme apakah probiotik dapat digunakan untuk membantu mengatasi obesitas.

Seri Probiotik – Endang Sutriswati Rahayu 73

Delzenne NM and Cani PD. 2011. Interaction Between Obesity and the Gut Microbiota: Relevance in Nutrition. Annu. Rev. Nutr.: 31:3.1–3.17

Ridaura VK., et al., 2013. Cultured gut microbiota from twins discordant for obesity modulate adiposity and metabolic phenotypes in mice. Science. September 6; 341(6150): . doi:10.1126/science.1241214.

Sumber gambar : https://www.medicalnewstoday.com

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp