BeeJay Chef, Premium Seafood Product

“Saya tidak suka iklan,” ujar seorang ayah di Jakarta, “Tetapi, makan produk BeeJay Chef saya tidak mau berhenti. Anak saya juga, nugget, siomay dan yang lainnya, cukup dikukus. Rasanya enak sekali.”

Produk ini hasil kreasi Benjamin Mangitung, pimpinan BJ Seafood yang berkedudukan di Probolinggo, Jawa Timur. Premium seafood produk ini, seperti beberapa produk lain yang mendunia, tercipta tanpa rencana. Awalnya tahun 1997, Pak Ben (panggilan akrabnya) membuat produk ikan beku dalam bentuk fillet kualitas internasional. Semua produknya di ekspor ke Australia dan Penang, Malaysia. Pembeli Australia meminta agar produk fillet tanpa duri itu berbentuk huruf “A” atau mirip segitiga sama sisi, yang meliputi bagian perut, punggung dan ekor.

Secara teknis tidak masalah. Hanya saja, pemotongan bentuk segitiga itu membuat ada bagian ikan yang terbuang (loses) sekitar 2%, dalam bentuk potongan-potongan kecil tidak beraturan. Makin sulit membentuknya, makin besar loses-nya. Dari produksi ikan beku 6 ton/hari (kapasitas terpasang 9 ton/hari), jumlah 2% itu lumayan banyak juga.

Pak Ben, alumni FTP UGM 75, sempat terpikir untuk membuang saja loses tersebut. Tapi, “potongan-potongan kecil daging ikan itu sehat dan bergizi, sama dengan produk fillet yang diekspor.” Putar otak, muncul ide untuk membuat VAP (Value Added Product) dari potongan ikan dalam bentuk siomay. Produk ini dijual murah, toh hanya dibuat dari bahan baku sisa ekspor.

Semula, produk dijual khusus untuk karyawan pabrik. Mereka menyukai rasanya yang enak dan, yang penting, bisa meningkatkan gizi anak-anak. Nilai protein produk ini bagus, 40-44%. Produk ini tanpa pengawet dan pewarna, sehingga aman dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa. Tak heran bila animo pembeli terus meningkat.

Kreativitas Pak Ben terpacu. Ia berpikir untuk membuat seksion VAP tersendiri. Dilakukan standardisasi, ikan apa saja yang bisa dibuat produk VAP termasuk pembenahan proses, perijinan dan lain-lain. Kini, produk BeeJay Chef sudah mengantongi sertifikasi halal MUI, BPOM dan HACPP. Produksi VAP saat ini mencapai 400 kg/hari, terdiri dari 11 varian yaitu: gyoza ikan, samoza ikan, tempura ikan, otak-otak tenggiri, bakso ikan, lumpia udang, fish and chip (fillet ikan lapis tepung), nugget ikan, mini wonton dan siomay (besar, kecil).

Permintaan terus meningkat, Pak Ben tidak khawatir karena kapasitas mesin terpasang sampai 8 ton/hari). Bahan baku dari potongan-potongan kecil ikan sisa ekspor sudah tidak memadai. Didatangkan ikan-ikan sejenis dan setelah diolah dan diberi bumbu, kata para pelanggan, “Kami tidak bisa membedakan, apakah produk ini bahan bakunya ikan kakap, tenggiri atau ikan lain.”

Pemilik ATM Food, kebetulan alumni FTP UGM, tak menyia-nyiakan peluang menjadi distributor untuk Yogya. Dan kemudian ditunjuk menjadi distributor untuk Indonesia (Jakarta, Semarang, Solo dll).

BeeJay Chef membuka peluang untuk menjadi agen atau reseller. Silakan hubungi Nurhayati Nirmalasari WA 0838 4095 7962. Hanung 81

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp