Attempe, Tempe Sehat Berkualitas Atas

Siapa tak kenal tempe. Pangan asli Indonesia dari bahan kedelai ini kian luas dikenal, sebagai sumber protein selain daging dan ikan. Di Jepang, ada orang Indonesia yang membuat dan menjual tempe. Di Inggris, orang bule yang pernah belajar membuat tempe di Jawa Tengah, tempe buatannya laris manis.

Ada Attempe. Ini produk tempe yang terbuat dari kedelai non-GMO (Genetically Modified Organism), hasil karya Nurhayati Nirmalasari (46 tahun). Alumni FTP UGM 1990 dan ibu 2 anak ini tergerak membuat tempe yang enak dan sehat, sekaligus membantu petani kedelai lokal di tanah tandus Kabupaten Grobogan, Kulon Progo, Wonogiri, Sukoharjo dan sebagian Sleman.

Untuk memenuhi keinginan pasar, dibuat tempe dalam kemasan plastic @300 gram dan 500 gram dan tempe dibungkus daun @300 gram (bulat dan kotak). Kualitas sama, tempe kemasan plastik digemari karena lebih higienis. Tempe kemasan daun disukai karena alami dan flavor (aroma)-nya lebih sedap. Nurhayati yang akrab dipanggil Nunung atau Nungky, sedang mengembangkan beberapa produk Attempe frozen food berupa kroket tempe beku, nugget tempe dan brownis tempe.

Tergila-gila kedelai lokal

Nungky gemar membaca artikel tentang kedelai, terutama tentang GMO atau organisme yang sudah direkayasa secara genetis dan non GMO. Awal tujuan rekayasa para ilmuwan pada produk pangan adalah untuk meningkatkan produktivitas, dengan cara merekayasa secara genetis. Terjadi pro kontra, karena produk ini menimbulkan penyakit, merusak keseimbangan lingkungan, dll. Sedangkan yang pro menyatakan, produk rekayasa genetika aman dikonsumsi.

Nungky tergila-gila pada kedelai lokal untuk dibuat makanan tradisional sehat, yang sudah sangat popular yaitu tempe. Ia memilih kedelai lokal  yang non GMO untuk memroduksi tempe yang diberi merek keren Attempe; kepanjangan dari Atris Tempe; Atris adalah nama suami, dosen FTP UGM pengelola digikedelai.com dan pekakekal.org

“Tempe adalah golden food. Proses fermentasi pada tempe yang menggunakan kapang Rhizopus oligosporus, menyebabkan zat-zat gizi yang terdapat pada kedelai khasiatnya berlipat ganda,” ujarnya.

Awalnya, Nungky membuat tempe nebeng di pabrik tempe milik teman di Dongkelan, Bantul, Yogyakarta. Cukup lama juga, sekitar 2 tahun (2015-2017). Pabrik tempe milik teman itu memakai bahan baku kedelai GMO, proses produksinya di pagi hari. Attempe milik Nungki yang non GMO, kebagian diproduksi siang hari.

Pasar menyambut baik Attempe. Produksi terus meningkat, sehingga pembuatannya tidak bisa lagi nebeng. Diputuskan membuat pabrik tempe sendiri dengan peralatan yang lebih higienis (food grade) di Prambanan.

Kerja sama petani

Muncul kendala. Para petani  tidak tertarik menanam kedelai lokal, karena terus merugi. Dulu, menjual 1 kg kedelai bisa untuk membeli beras 2 kg. Sekarang, 1 kg kedelai hanya bisa untuk membeli 0,5 kg beras. Kedelai lokal makin langka dan harganya lebih mahal dibanding kedelai impor yang GMO. Tetapi, Nungky bertekad untuk tetap memakai kedelai lokal. “Selain dijamin sehat, lebih gurih, hasil prosesnya lebih banyak dan juga sebagai food traceability,“ ujarnya.

Food traceability adalah makanan yang mudah ditelusuri, mudah dilacak asal usulnya, mudah dirunut lokasi tanamnya. Ini penting, karena daerah tertentu mengandung logam Cadmium yang bisa masuk ke seluruh tanaman melalui akar. Apabila akumulasi Cadmium berlebih, dapat mengganggu kesehatan.

Banyak yang belum paham bahkan tidak peduli atas paparan logam ini. Mengingat tempe adalah makanan yang digemari masyarakat secara luas, Nungky peduli agar Attempe selain enak juga menyehatkan. Sebagai solusi atas kelangkaan kedelai lokal, ia berupaya agar petani semangat menanam. Kedelai lokal biasanya ditanam di daerah bertanah tandus. Petani terpaksa menanamnya saat bero (tidak bisa menanam padi karena kekurangan air), daripada tanah dibiarkan kosong. Kedele yang ditanam biasanya dibiarkan begitu saja, tanpa penanganan yang bagus.

Nungky terjun ke lapangan. Ia berusaha meyakinkan petani bahwa hasil panen kedelai mereka, berapa pun jumlahnya, akan dibeli dengan harga yang bagus. “Saya harus pintar-pintar mengatur cash flow, untuk pengadaan stock kedelai lokal. Jadwal panen dicatat teliti, supaya pasokan bahan baku untuk Attempe cukup sampai musim panen berikutnya,” ujarnya. “Kita harus spare modal, untuk menampung bahan baku yang panennya tidak sepanjang tahun.”

Kelas menengah atas

Attempe awalnya dijual di pasar tradisional. Tarikannya kurang, karena secara harga tidak bisa bersaing  dengan  tempe dari kedelai impor GMO yang lebih murah. Attempe kemudian dicoba dipasarkan lewat pasar modern, yakni pasar swalayan ternama yang ada di Yogyakarta dan Surakarta. Lalu. Hotel, rumah sakit, catering dan mereka yang sadar akan pentingnya kesehatan, juga menerima baik produk ini. “Attempe sepertinya pas untuk masyarakat  kelas menengah atas,” ujar Nungky. Di sisi lain, dilakukan edukasi calon pembeli dari kalangan masyarakat marginal.

Untuk promosi, Attempe pernah mengadakan lomba kreasi masakan tempe. Pernah dihelat di Jwalk Babarsari Juni 2017 dan di JEC Desember 2017. Saat ini, Attempe membuka gerai di halaman Kantor Direktorat PPHP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) Kementan Pasar Minggu, Jakarta. Semua produk Attempe dikirim langsung dari Yogya.

Sebagai juragan tempe, banyak suka dukanya. Sukanya, Nungky bisa menampung produksi petani dengan harga yang pantas. Dia bangga bisa menyajikan produksi makanan lokal sehat kepada masyarakat luas. Dukanya, tidak mudah mengedukasi masyarakat yang cenderung memilih harga lebih murah, dan mengabaikan faktor kesehatan gizi.

Selain marketing lewat jalur tradisional (offline), Attempe dipasarkan lewat berbagai jejaring (network) termasuk via medsos. Silakan klik www.attempe.com atau fanpage facebook @attempe. Hanung 81

Bagikan

One thought on “Attempe, Tempe Sehat Berkualitas Atas

  • May 28, 2018 at 1:37 pm
    Permalink

    Pasti enak tempe bahan bakunya kedelai lokal, saya tidak pernah bosan dengan tempe…sukses untuk Attempe…sukses untuk kagamatpugm

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp