Kisah Makanan Dalam Kaleng

Pengalengan makanan adalah suatu metode pengawetan makanan agar makanan dapat tahan disimpan dalam waktu yang lama. Sebelum metode saintis pengawetan ini dikenal, konon sejak tahun 12000 SM, cara pengawetan makanan yang pertama kali dilakukan hanyalah melalui proses pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari. Baru menjelang tahun 1800an, mulai ada yang mengawetkan makanan dengan cara yang lain, yaitu dengan memanggang, mengasinkan, atau mengasamkan, tetapi cara pengawetan ini  tidak selalu memberikan hasil yang baik.

 

Sementara itu, kebutuhan akan makanan awet semakin meningkat seiring dengan terjadinya peperangan yang mengharuskan para tentara meninggalkan rumah menuju medan perang di Italia, Belanda, Jerman dan Karibia. Banyak tentara yang meninggal karena menderita penyakit malnutrisi akibat ketiadaan persediaan bahan makanan yang layak untuk dimakan.

 

Pada tahun 1795, Napoleon menawarkan hadiah 12.000 franc bagi siapa saja yang mampu mengawetkan makanan untuk ransum para tentara yang berada jauh di medan laga. Akhirnya Nicolas Appert,  seorang penjual manisan, acar, bir, dan  anggur, tampil   memenangkan hadiah tersebut. Mereka mengemas makanan yang dimasak ke dalam botol kaca, serta menutupnya dengan gabus, kawat, dan lilin penyegel, kemudian merebus botol beserta isinya selama 12 jam dalam air yang mendidih. Cara pengawetan dengan menggunakan panas ini,  oleh Appert dinamakan Appertisasi, dan berkembang di Amerika sehingga pada tahun 1858 muncul kemasan berbentuk toples, bermulut lebar dengan penutup dari seng yang disekrupkan ke mulut toples.

 

Pada tahun 1804, Appert mencoba menyimpan daging di dalam kaleng yang ditutup rapat. Daging kaleng tersebut disimpan selama beberapa bulan, ternyata ada beberapa kaleng yang membengkak dan dinyatakan gagal. Namun daging yang berada dalam kaleng yang tidak membengkak dianggap aman untuk disimpan lebih lama dan laku dijual. Appert kemudian menjual makanan berupa kacang polong dalam kaleng. Bahan kaleng yang pertama kali digunakan adalah baja, kemudian besi cor (cast iron), dan sudah digunakan untuk mengawetkan buah-buahan

.

Tahun 1873, makanan kaleng semakin terkenal dengan adanya perusahaan makanan kaleng, seperti Campbell, Heinz & Borden. Proses pengalengan pun semakin mudah dilakukan dengan mesin modern yang memiliki kapasitas 2.000 kemasan kaleng/menit. Sotja Prajati 73.

 

Referensi :

 

– National Center for

Homefood Preservation

– National Geographic

Indonesia

– Viva News Tainment

– Republik Eusosialis

Tawon

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai, silahkan konsultasikan kebutuhan anda terkait KAGAMATP, kami akan menjawab pertanyaan anda dengan senang hati.

Chat dengan kami di WhatsApp